1 Kisah Tentang Airmata

1 Kisah Tentang Airmata

Pabila terkait tentang airmata, 1 kisah ini seakan-akan dilahirkan semula di dalam jiwaku. Ya, setiap dari kita mungkin mempunyai sebuah kenangan yang hampir sama. Lalu membuatkan kita terkenang-kenang dan terbayang-bayang. Hampir pasti! Airmata pun turut sama mengalir, kan?

Pabila terkait kisah tentang airmata. Sebak di dada hanya Allah yang tahu. Kesedihan seorang hamba yang tak bisa didengarkan lagi. Tak bisa dimengertikan bagaimanakah perasaannya? Sakitkah?
Tak mampu memberikan respon jasad sama sekali! Tatkala sifat fizik luaran pun tak bisa menterjemah sebuah kejadian. Apa yang terjadi, kita yang menjadi saksi sebuah kejadian hanya dilanda penuh pertanyaan dan persoalan. Bagaimana? Apa rasanya?

Lalu, apa apa yang terbukti di depan mata, pabila jasad telah terbiar bersendiri. Tanpa ada roh menghuni lagi saat ini! Detik itu,

“…kulihat airmata lajumu pun turut berhenti menyentuh pipi!”

Semoga rohmu dicucuri rahmat dari-NYA. Ini doaku (doa kami) insan kesayangan yang masih diberikan pinjaman nafas di Dunia yang fana. Aaamiiin Ya Allah.

Ku alunkan puisi kasih ini, dengan izin Allah ia terpatri jua di sini, blog rujautih.

1 KISAH TENTANG AIRMATA

Sendirian menahan sakit yang datang

airmatamu tak mampu kau selindungkan lagi

sudah tiba detiknya

kau biarkan ia berguguran

deraian satu persatu ku lihat mata itu

perlahan-lahan mengalir di pipi kasarmu

Ini 1 kisah tentang airmata

airmata seorang insan

terduga takdir

jasad dan nyawa terpisah

Dialah insan di antara dua jiwa penyatuan

kerana dia memberiku cinta kasih yang teristimewa

selama-lamanya!

kisah ini ku bawa bersama masa ku yang masih ada

Oh, kenangan!

redha kerana Tuhan

ia terbit dalam hati yang mengerti

tak terdaya hatta memberi isyarat jari

Hanya airmata ini

isyarat terbaik!

petanda aku masih dikenali

airmatanya melukiskan cinta pada sebuah penantian

sungguh aku bisa merasakan akhirnya

airmatanya yang mengalir satu demi persatu

airmata ketidakberdayaan sebuah jasad

semakin lama semakin lemah

Oh, airmata!

Mengapa kau bersedih?

Terasa hampir kering dalam takungan perasaan

Semua kesedihan seakan pasrah kini

Cukuplah!

Sedihku pada sebuah rasa yang dimengerti Tuhan

Aku tunduk

Dia tunduk,

Di saat nafas pergi, sebuah kehidupan terhenti di sini

 T A M A T

 

 

Leave a Reply